Al-Qur’an Jadi Penenang Hati Penduduk Palestina

Ternyata, warga Palestina bisa menemukan ketenangan dengan cara membaca Al-Quran

untukpalestina.com Pengepungan dan tekanan yang terjadi pada penduduk Palestina mendorong mereka untuk menemukan ketenangan hati melalui Al-Qur’an. Penasaran dengan bagaimana penduduk Palestina bisa begitu mencintai Al-Qur’an?  Simak ulasan lengkap Yayasan Untuk Palestina – lembaga donasi Palestina resmi – berikut ini!

Kecintaan Warga Gaza terhadap Al-Qur’an

Sebagai kumpulan firman-firman Allah dan petunjuk-Nya untuk umat manusia, Al-Qur’an benar-benar dimaknai secara mendalam oleh penduduk Gaza. Banyak sekali warga Gaza yang beralih ke Alquran untuk mengatasi perasaan terisolasi dan putus asa yang sering mendatangi mereka.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zakariya Alzemly, profesor Ilmu Alquran dan Perbandingan Agama di Universitas Islam di Gaza, “Al-Qur’an memberi kami kenyamanan. Meskipun kami hidup dalam kondisi yang buruk dan di bawah tekanan, Al-Qur’an mengajari kami kesabaran”. Sungguh Al-Qur’an benar-benar menjadi obat penenang bagi warga Gaza yang masih khawatir terhadap krisis kemanusiaan yang terus saja membayangi mereka.

(Ket. Kelas hafalan Al-Qur’an yang memberlakukan physical distancing di Gaza. Dok. Middle East Monitor)
(Ket. Kelas hafalan Al-Qur’an yang memberlakukan physical distancing
di Gaza. Dok. Middle East Monitor)

Kecintaan warga Gaza terhadap Al-Qur’an semakin dibuktikan dengan banyaknya jumlah penghafal Qur’an atau biasa disebut Hafidz Qur’an di Gaza. Melalui data yang telah dikumpulkan oleh Wakaf Islam Gaza sejak tahun 2006, telah tercatat sekitar 40.000 orang hafiz Qur’an yang terdaftar di Gaza.

Tradisi menghafal itu sendiri sudah menjadi keterampilan umum di masyarakat sejak abad ke-6 masehi, dimana ketika Nabi Muhammad membacakan ayat-ayat Alquran, para pengikutnya menyimpan kata-katanya dengan cara menghafalnya. Barulah setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, para sahabat menulis Al-Qur’an secara keseluruhan.

(Ket. Seorang wanita Palestina sedang membaca Al-Qur’an sambil menikmati suasana pantai di Gaza. Dok. Reuters)
(Ket. Seorang wanita Palestina sedang membaca Al-Qur’an
sambil menikmati suasana pantai di Gaza. Dok. Reuters)

Di Gaza, Al-Qur’an mudah untuk ditemukan di berbagai tempat. Beberapa contoh betapa melekatnya Al-Qur’an dengan kehidupan sehari-hari warga Gaza, yaitu:

  1. Pengemudi mobil cenderung menaikkan volume setiap kali Al-Qur’an dilantunkan di radio.
  2. Diputarnya rekaman lantunan Al-Qur’an di banyak toko, mulai dari toko-toko kecil hingga toko swalayan.
  3. Kutipan ayat Al-Qur’an dapat ditemukan pada grafiti yang ada di dinding bangunan di wilayah Gaza.
  4. Kutipan Al-Qur’an yang dicetak bersamaan dengan foto Kubah Batu Al-Aqsa yang ditempel di dinding.

 

Baca Juga: Mau ikut memakmurkan Masjid Al-Aqsa? Ini dia cara mudahnya!

 

Kecintaan Para Penghafal terhadap Al-Qur’an

Kecintaan yang begitu mendalam terhadap Al-Qur’an turut ditunjukkan oleh sosok Kareema Abu Shahma,  seorang tunanetra berumur 48 tahun yang menjadi guru di Masjid Jafer, Khan Younis.

Bagi Abu Shahma, menghafal Al-Qur’an tidak hanya membantunya merasa lebih dekat dengan Allah, tetapi juga membantunya merasa lebih percaya diri. Abu Shahma  turut menceritakan bahwa ia bukanlah orang yang kuat dan tidak ada yang mau menerimanya , tetapi ketika ia menghafal Al-Quran, orang-orang mulai menghormatinya sebagai orang buta. Dan semua orang sekarang tahu siapa Abu Shahma dan apa yang bisa dia lakukan.

(Ket. Kareema Abu Shahma (kanan) sedang membaca Al-Qur’an bersama salah satu anak didiknya di Khan Younis, Gaza. Dok. Aljazeera)
(Ket. Kareema Abu Shahma (kanan) sedang membaca Al-Qur’an bersama salah satu anak didiknya
di Khan Younis, Gaza. Dok. Aljazeera)

Dan  Abu Shasma berhasil membuktikan bahwa ia mampu menjadi guru Al-Qur’an  dengan segala kondisi yang dimilikinya. Meski terlahir buta, dia telah mengubah kecacatannya menjadi kekuatan dan menolak untuk berkecil hati dalam mencapai tujuannya menghafal Al-Qur’an dan menjadi seorang guru.

“Al-Quran adalah kekuatan saya. Itu akan selalu menjadi panduan dan akan selalu memberi kekuatan untuk menjadi apa pun yang kita inginkan. Jika kita ingin memiliki karakter yang kuat, maka kita harus menghafal Al-Quran”, ujar Abu Shahma menegaskan keteguhannya.

Abu Shahma selalu memulai dan mengakhiri harinya dengan membaca Alquran. Ia telah menghafal seluruh isi Al-Qur’an yang berjumlah 6.236 ayat dalam huruf braille selama lima tahun. Dan setiap harinya ia membaca kembali seperempat dari 600 halaman kitab Al-Qur’an untuk memasitkan kesempurnaan hafalannya.

“Jika saya ingin pergi ke suatu tempat, saya akan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu baru pergi meninggalkan rumah, dan jika saya sakit , maka saya akan membaca Al-Qur’an”, ungkap Abu Shahma menegaskan seberapa dekatnya ia dengan Al-Qur’an.

Saat ini, Abu Shahma adalah pemimpin yang sangat dihormati di komunitasnya. Dia telah mengajar siswa selama lebih dari 20 tahun dan di bawah asuhannya, 80 siswa telah memangku status Hafidz Qur’an. (miftah/untukpalestina)

 

Sumber: Aljazeera

 

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer